Berita  

Capaian Ekonomi Kreatif Tembus Rp24,46 Triliun

Sektor ekonomi kreatif telah membuktikan peran signifikan dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) selama periode liburan Natal dan Tahun Baru 2025/2026, mencapai Rp24,46 triliun dari total tambahan PDB nasional sebesar Rp48,56 triliun. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa dampak positif ini bukanlah sesaat, tetapi mencerminkan potensi strategis yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Data dari Direktorat Kajian Manajemen Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya didorong oleh libur panjang, tetapi juga dapat menjadi tulang punggung ekonomi jika dikelola sebagai bagian dari strategi tahunan yang terintegrasi.

Perubahan perilaku konsumen yang semakin menunjukkan minat pada produk kreatif, seperti kuliner lokal, fesyen, kriya, hiburan, dan seni, semakin memperkuat posisi subsektor ekonomi kreatif sebagai pengisi utama belanja masyarakat selama periode liburan. Data jejak digital konsumen juga menunjukkan bahwa minat terhadap kuliner meningkat pada tanggal-tanggal tertentu selama liburan, menandakan pentingnya memahami pola konsumsi dalam mendukung distribusi dan promosi produk kreatif.

Hasil survei kinerja usaha menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku ekonomi kreatif melaporkan peningkatan penjualan selama periode liburan Nataru, dengan subsektor kuliner, fesyen, dan kriya menjadi penyumbang terbesar terhadap lonjakan transaksi. Belanja wisatawan juga menunjukkan bahwa konsumsi produk kreatif seperti makanan, cinderamata, dan belanja ritel memiliki potensi untuk terus berkembang dalam rantai konsumsi wisata dan kegiatan liburan masyarakat.

Kontribusi terbesar terhadap PDB ekonomi kreatif selama periode liburan Nataru berasal dari subsektor kuliner, diikuti oleh fesyen dan kriya. Data ini menegaskan pentingnya penguatan rantai pasok, kapasitas produksi, dan akses pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif untuk merespons lonjakan permintaan secara optimal. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky, menutup keterangan persnya dengan menggarisbawahi bahwa manajemen momentum seperti Nataru dapat memberikan dampak yang signifikan tidak hanya pada pertumbuhan PDB, tetapi juga pada penguatan jenama lokal secara berkelanjutan.

Source link