Generasi Z, yang tumbuh di era digital yang bergerak cepat, seringkali terjebak dalam tekanan sosial untuk meraih kesuksesan dengan cepat dan rasa takut untuk tertinggal. Fenomena “flexing” atau memamerkan kemewahan di media sosial semakin menambah aspirasi untuk menjadi kaya instan. Namun, kehidupan gemerlap yang terpampang di layar seringkali menipu, dan banyak dari kemewahan itu sebenarnya hanya ilusi atau bahkan penipuan.
Mindset keuangan Generasi Z dipengaruhi oleh budaya instan ini, sehingga banyak di antara mereka terjebak dalam gaya hidup konsumtif, utang paylater, dan standar kesuksesan yang sebenarnya hanya diproduksi oleh media sosial. Hal ini dapat berisiko menjadi mimpi buruk tanpa adanya literasi finansial dan kesabaran.
Contohnya adalah kasus dua influencer muda, Indra Kenz dan Doni Salmanan, yang dikenal karena unggah-unggahan kemewahan mereka di media sosial. Keduanya akhirnya harus mendekam di penjara karena terlibat dalam kasus investasi bodong dan penipuan. Meskipun kasus ini telah menjadi sorotan nasional dan menjadi pembelajaran bagi calon investor lain, masih ada generasi muda lain yang nyaris mengulang cerita serupa.
Contoh terbaru adalah kasus Timothy Ronald, seorang influencer keuangan yang dilaporkan ke polisi atas dugaan penipuan investasi kripto. Ribuan orang tergabung dalam komunitasnya dan menjadi korban dengan kerugian mencapai lebih dari Rp 200 miliar. Masalah ini menjadi cermin jelas bahwa ilusi kaya instan dapat menjerat siapa saja, terutama Generasi Z.
Untuk mengubah paradigma ini, penting bagi generasi muda untuk fokus pada proses, kerja keras, dan kejujuran. Gabriel Rey, seorang pionir bisnis kripto, menegaskan bahwa kemewahan yang terlihat di media sosial sebetulnya merupakan hasil dari proses panjang dan usaha yang konsisten. Pesan senada juga datang dari berbagai pihak, bahwa jalan pintas menuju kekayaan tidak selalu membawa keberhasilan jangka panjang.
Dengan tingkatkan literasi keuangan, kenali risiko sebelum berinvestasi, dan membangun pondasi finansial yang kokoh dengan cara-cara yang jujur, Generasi Z berpeluang mencapai kesuksesan yang bermartabat dan berkelanjutan. Masa depan yang dibangun dengan fondasi kejujuran dan ketekunan akan membawa nilai diri dan integritas yang terus melekat sepanjang hayat. Gen Z, bukanlah “Generasi Instan”, melainkan generasi cerdas yang mampu membedakan kilau semu dan emas asli. Dengan kembali ke jalur proses dan kerja keras, mereka dapat menciptakan kesuksesan yang nyata dan berkelanjutan tanpa perlu memamerkan kemewahan, karena hasilnya diraih dengan keringat dan kejujuran.












