Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung (Cimancis) di Jawa Barat tengah mempersiapkan berbagai peralatan, termasuk pompa surya, untuk menghadapi dampak musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi akan datang lebih awal daripada tahun sebelumnya. Kepala BBWS Cimancis, Dwi Agus Kuncoro, menjelaskan bahwa langkah-langkah telah diambil untuk menjaga pasokan air bagi petani, khususnya di daerah rawan kekeringan. Musim kemarau diprediksi akan dimulai sejak bulan April dan mencapai puncaknya pada bulan Agustus, lebih awal daripada biasanya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, BBWS Cimancis telah menyiapkan peralatan penanganan kekeringan, seperti pompa air khusus untuk kekeringan, sprinkler, drone penyiram air, dan alat pengebor sumur dangkal. Selain itu, mereka juga telah mengembangkan pompa kekeringan berbasis tenaga surya yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok tani untuk membantu memasok air ketika pasokan air berkurang. Saat ini, BBWS Cimancis baru memiliki tiga unit pompa tenaga surya, namun jumlah tersebut masih jauh di bawah kebutuhan ideal.
Selain pengadaan pompa, BBWS Cimancis juga memanfaatkan embung dan bendungan sebagai sumber cadangan air selama musim kemarau. Embung umumnya hanya mencukupi kebutuhan air untuk satu musim tanam, sehingga diperlukan koordinasi dengan pasokan air dari bendungan. Beberapa wilayah masih memiliki potensi kekeringan karena belum sepenuhnya dilayani oleh jaringan bendungan, seperti daerah hilir Majalengka dan Cirebon timur.
Pada wilayah tersebut, petani diimbau untuk memanfaatkan sumur dangkal dengan kedalaman sekitar 10 meter yang dilengkapi dengan pompa tenaga surya. Dukungan dari pompa air dan pengelolaan irigasi yang baik dapat membantu petani menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau. Dengan adanya pompa, embung, dan bendungan, diharapkan kebutuhan air pertanian tetap terpenuhi hingga akhir musim kemarau, bahkan hingga bulan Desember.












