Film Songko: Hyperlocal Storytelling Terbaik

Film horor baru berjudul Songko baru saja tayang di bioskop Indonesia dengan konsep hyperlocal storytelling. Konsep ini diperkenalkan oleh sutradara Gerland Mamahit, yang menekankan pentingnya kisah lokal dalam menyampaikan pesan dengan fokus pada konteks geografis, budaya, dan pengalaman unik yang dapat membangun hubungan emosional. Produser eksekutif Santara Whisnu baker juga menegaskan bahwa cerita dari daerah-daerah memiliki daya tarik tersendiri yang unik. Mereka berusaha untuk menampilkan bahwa horor dapat menjadi sarana untuk memperkuat identitas budaya, bukan hanya sekadar hiburan semata.

Melalui riset yang detail dan mendalam, film Songko melibatkan warga lokal dalam produksi agar ceritanya benar-benar mencerminkan budaya setempat. Dengan menggunakan dialek bahasa Manado, film ini menciptakan kedekatan dan keautentikan dengan latar ceritanya. Songko sendiri merupakan cerita rakyat dari Tomohon, Sulawesi Utara, tentang legenda makhluk misterius yang dikenal sebagai pengincar darah suci perempuan muda.

Fokus utama film ini adalah pada kisah kematian misterius yang terjadi di desa Gunung Lokon pada tahun 1986, yang membuat warga hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang kematian. Para gadis menjadi target utama makhluk itu karena mengincar darah perawan. Film ini dibintangi oleh Imelda Therinne, Annete Edoarda, Fergie Brittany, Tegar Satria, Khiva Iskak, serta aktor dan warga lokal lainnya yang dipilih sebagai cameo. Songko saat ini sedang tayang di bioskop untuk penonton yang ingin merasakan horor dan kekayaan budaya lokal dalam satu kesatuan yang menarik.

Source link