Wusi Tungkau Nansarunai: Mengungkap Jiwa Abadi di Balik Tragedi Usak Jawa

Pementasan Sendratari “Wusi Tungkau Nansarunai”: Kisah Bangkit dan Kehancuran Bangsa Dayak Ma’anyan

Memorabilia kolektif bangsa Dayak Ma’anyan dihidupkan kembali melalui pementasan sendratari “Wusi Tungkau Nansarunai” di UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah. Bukan sekadar gerak tari, pementasan ini menjadi cerminan tentang kehancuran, hawa nafsu, dan kekuatan untuk bangkit dari puing-puing sejarah.

Kehancuran Kerajaan Nansarunai

Kisah dimulai dari kejayaan Kerajaan Suku Dayak Ma’anyan yang sudah ada sejak zaman prasejarah. Kerajaan Nansarunai hidup dalam harmoni di bawah kepemimpinan Amah Jarang. Namun, kedamaian tersebut terganggu saat serangan dari “Nansarunai Usak Jawa” menghancurkan peradaban mereka.

Pesan Filosofis dalam Sendratari

Pementasan sendratari ini menyampaikan pesan kuat tentang pengendalian diri. Pemicu utama kehancuran Nansarunai adalah hawa nafsu yang tak terkendali, menurut produser Alfirdaus. Penonton dipertontonkan momen eksodus Suku Dayak Ma’anyan ke hutan Barito dalam penuh kesedihan.

Meskipun kehancuran fisik terjadi, pementasan ini menegaskan bahwa bangsa bisa bangkit dari keterpurukan. Nansarunai bukan hanya sejarah dalam buku, melainkan identitas yang terus hidup dan mengalir dalam darah masyarakat Dayak Ma’anyan.

Menjaga Akar Budaya dan Sejarah

Pementasan ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga akar budaya di tengah arus modernisasi. Generasi muda diminta untuk memahami sejarah secara bertanggung jawab dan menjadi benteng bagi kelestarian budaya Dayak Ma’anyan.

Nansarunai mungkin sudah lenyap secara fisik, namun jiwa dan kekuatannya tetap hidup dalam diri masyarakat. Melalui seni dan budaya, semangat bangkit dan kekuatan baru terus ditebar untuk melestarikan warisan leluhur.

Source link