Jumlah Korban Tewas di Perbatasan Ceuta Meningkat Menjadi 67 Orang
Masa-masa tegang di wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, telah mengakibatkan meningkatnya jumlah korban tewas akibat penyeberangan migran massal. Sampai saat ini, sudah terdapat 67 orang yang menjadi korban. Pihak berwenang Spanyol menyatakan bahwa meskipun situasi di perbatasan kini telah stabil setelah sebagian besar migran kembali ke Maroko.
Situasi di Perbatasan dan Langkah yang Diambil
Pemerintah Spanyol telah mengonfirmasi bahwa tidak ada satupun dari hampir 50.000 migran yang memasuki Ceuta secara ilegal diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke daratan utama Spanyol. Lebih dari 48.000 migran telah kembali ke Maroko dalam waktu 48 jam, yang mengindikasikan penyelesaian krisis migrasi ilegal terbesar di perbatasan selatan Spanyol.
Otoritas Spanyol pun mulai memasang penghalang maritim baru di kawasan pemecah ombak El Tarajal sebagai upaya untuk memperketat pengamanan perbatasan. Sistem tersebut terdiri dari penghalang apung pneumatik sepanjang 500 meter dengan bagian yang terendam hingga satu meter di bawah permukaan air. Dilengkapi dengan lapisan pertama pelampung tambat dari Angkatan Laut Spanyol, jalur pelayaran tetap dibuka agar kapal patroli Garda Sipil Spanyol dapat terus melakukan pengawasan di wilayah perbatasan.
Tanggapan Maroko dan Tindakan Hukum
Menurut kantor berita Spanyol, EFE, otoritas Maroko telah menahan 70 orang terkait insiden kekerasan yang terjadi dalam konteks krisis migran tersebut. Para tersangka sedang diselidiki atas tuduhan berbagai tindak kejahatan, mulai dari percobaan pembunuhan, pembakaran, hingga perusakan properti publik atau swasta setelah terjadinya bentrokan dengan aparat keamanan.










