Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong kelompok tani memanfaatkan lahan sempit di kawasan perkotaan melalui pertanian terpadu. Salah satu praktik yang dikembangkan Kelompok Tani Swa Katon Asri di Wirobrajan ialah menanam padi menggunakan galon bekas sebagai media tanam, lalu menggabungkannya dengan budi daya ikan lele dan sayuran.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan, model tersebut menjadi contoh bahwa keterbatasan lahan tidak selalu menjadi hambatan bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan pertanian. Ia menyampaikan hal itu setelah menghadiri panen perdana padi yang ditanam dalam galon bekas di Yogyakarta, Jumat.
Padi, ikan lele, dan sayuran dalam satu kawasan
Di kawasan pertanian terpadu itu, kelompok tani tidak hanya membudidayakan padi. Beragam tanaman pangan dan hortikultura, seperti cabai, tomat, serta terong, turut ditanam dengan memanfaatkan media yang tersedia. Budi daya ikan lele juga menjadi bagian dari sistem tersebut.
“Yang menarik dari kegiatan ini adalah bagaimana masyarakat mampu menjawab keterbatasan lahan perkotaan yang kemudian bisa dimanfaatkan secara kreatif,” kata Hasto.
Menurut dia, hasil penanaman padi dalam galon bekas bahkan dinilai lebih maksimal dibandingkan hasil panen sawah pada umumnya. Setiap galon dapat menghasilkan sekitar 30 tangkai padi dengan berat total 100 gram atau satu ons.
Dengan perhitungan tersebut, Hasto memperkirakan hasilnya dapat mencapai minimal sembilan ton per hektare. Angka itu, katanya, lebih tinggi dibandingkan hasil panen sawah biasa yang terkadang berada di kisaran tujuh ton per hektare.
Ditujukan untuk ketahanan pangan keluarga
Hasto menilai pertanian terpadu di tengah kota dapat menjadi salah satu cara memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat. Pemkot Yogyakarta berharap praktik tersebut tidak berhenti di Kelompok Tani Swa Katon Asri, tetapi dapat diikuti kelompok tani lain dengan dukungan pendampingan dari dinas terkait.
“Karena ini sebagai bagian dari ketahanan pangan berbasis masyarakat yang kemudian tidak kalah dengan apa yang ada di perdesaan atau di kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta,” ujarnya.
Pemkot juga mendorong agar kegiatan itu melibatkan ibu rumah tangga dan warga sekitar. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan, pengelolaan lahan secara mandiri diharapkan dapat mendukung perekonomian keluarga.
Hasto secara khusus menyoroti tanaman cabai yang dibudidayakan di kawasan tersebut. Komoditas itu disebut berpengaruh terhadap inflasi karena harganya sering meningkat. Ia menilai hasil panen cabai dari pertanian terpadu tersebut berpotensi membantu memenuhi kebutuhan pasar.
“Saya kira menarik kalau semua dikerjakan dengan mandiri, sehingga bisa membantu ibu rumah tangga mengurangi beban ekonomi,” kata Hasto.












