Sejarah Podcast: Dari Awal Mula hingga Kian Diminati

Podcast telah berubah dari eksperimen distribusi audio di internet menjadi ekosistem media yang digunakan untuk berbagai kebutuhan. Kontennya menemani perjalanan, olahraga, pekerjaan rumah, hingga waktu bersantai, dengan pilihan topik mulai dari komedi, horor, hubungan, kesehatan mental, bisnis, teknologi, olahraga, politik, budaya pop, sampai cerita keseharian.

Perkembangan terbaru membuat podcast tidak lagi identik dengan suara. Banyak program kini hadir dalam format video sehingga pendengar dapat melihat ekspresi pembawa acara dan narasumber, suasana studio, serta materi visual lain. Perpaduan audio, video, dan potongan konten untuk media sosial membuat batas antara podcast dan format digital lain semakin cair.

Dari RSS ke layanan streaming

Akar podcast dapat ditelusuri ke awal 2000-an, ketika para pengembang internet memanfaatkan RSS atau Really Simple Syndication. Teknologi tersebut sebelumnya digunakan untuk mendistribusikan pembaruan artikel dari situs dan blog.

Pengembang perangkat lunak Dave Winer kemudian mengembangkan RSS agar dapat membawa berkas audio. Mantan pembawa acara MTV Adam Curry turut mengembangkan mekanisme yang memungkinkan berkas itu diunduh secara otomatis dan dipindahkan ke perangkat pemutar musik seperti iPod.

Istilah “podcasting” mulai digunakan pada 2004. Jurnalis Ben Hammersley memakai istilah tersebut dalam tulisannya di The Guardian pada Februari tahun itu untuk menggambarkan perkembangan distribusi audio melalui internet. Nama podcast kerap dikaitkan dengan gabungan kata “iPod” dan “broadcasting”, meski perkembangannya kemudian tidak lagi bergantung pada iPod.

Berbeda dari radio konvensional yang mengikuti jadwal siaran, podcast memungkinkan pengguna memilih waktu untuk mengunduh dan mendengarkan program. Apple memperluas jangkauannya pada 2005 dengan memasukkan podcast ke iTunes. Pengguna pun dapat mencari, berlangganan, dan mengunduh program dari satu tempat.

Perkembangan smartphone serta layanan streaming seperti Spotify kemudian menyederhanakan proses tersebut. Pendengar tidak perlu lagi mengunduh berkas secara manual atau menggunakan pemutar MP3 khusus. Mereka cukup membuka aplikasi di ponsel, mencari program, lalu menekan tombol putar.

Indonesia dan ledakan format video

Di Indonesia, pertumbuhan podcast berjalan seiring dengan meluasnya internet, smartphone, dan media sosial. Produksi podcast tidak hanya dilakukan perusahaan media, tetapi juga kreator individu, komedian, musisi, jurnalis, influencer, dan komunitas.

Sejumlah program menunjukkan keragaman itu. PODKESMAS memadukan komedi dengan cerita dan persoalan sehari-hari. Rintik Sedu menghadirkan cerita tentang hubungan, perasaan, dan refleksi kehidupan. AGAK LAEN! membawa karakter komedi khas Batak ke dalam obrolan ringan dan telah memiliki episode sejak 2021. Thirty Days of Lunch mengangkat bisnis, karier, kehidupan profesional, serta pengalaman orang dari beragam latar belakang. Sementara itu, podcast Deddy Corbuzier dikenal dengan obrolan panjang bersama berbagai tokoh. Beberapa program tersebut juga tersedia dalam format video di Spotify.

Spotify mencatat lebih dari 6 juta podcast tersedia di platformnya pada 2024. Di Indonesia, podcast bertema agama dan spiritualitas menjadi genre yang paling banyak dikonsumsi selama Ramadan 2024. Data itu menggambarkan kemampuan podcast mengikuti kebutuhan pendengar pada momen tertentu.

Format video menjadi salah satu perubahan terbesar. Konsumsi video podcast di Spotify meningkat 88 persen dalam setahun hingga 2024, ketika lebih dari 300 ribu podcast video tersedia di platform tersebut. Spotify juga menyebut lebih dari 250 juta pengguna telah menonton podcast di layanannya. Jumlah itu belum mencakup podcast video yang hanya tersedia di YouTube.

Pasar global dan alasan podcast diminati

Di tingkat global, The Joe Rogan Experience yang hadir sejak 2009 menjadi salah satu program penting dalam perkembangan industri podcast dan pada 2020 menjadi eksklusif di Spotify. Program tersebut kembali menempati posisi pertama podcast global Spotify Wrapped pada 2025. Daftar teratas tahun itu juga mencakup The Diary of a CEO with Steven Bartlett, The Mel Robbins Podcast, Call Her Daddy, dan This Past Weekend with Theo Von.

Keragaman topik dan fleksibilitas menjadi daya tarik utama podcast. Konten audio dapat diikuti sambil berjalan, berkendara, memasak, atau bekerja, sedangkan format video memberi pengalaman visual bagi pengguna yang ingin menyaksikan interaksi langsung. Spotify turut memudahkan penemuan program melalui peringkat berdasarkan negara dan kategori yang diperbarui setiap hari.

Dari teknologi RSS dan eksperimen awal para pengembang internet, podcast kini berkembang menjadi media dengan beragam bentuk distribusi. Audio tetap menjadi fondasi, tetapi video, media sosial, serta komunitas membuat format ini terus berubah dan membuka ruang bagi program dengan jutaan pendengar maupun kelompok audiens yang lebih khusus.

Source link