Penguatan nilai tukar (kurs) rupiah berpotensi terjadi mengikuti harapan kesepakatan tarif ke depan antara Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS). Namun, ada juga potensi terbatas dan kemungkinan terjadi pelemahan. Investor saat ini mengantisipasi sikap hawkish The Fed dalam FOMC (Federal Open Market Committee) yang mungkin membatasi penguatan tersebut.
Kesepakatan perdagangan antara AS dan UE mencakup tarif nol banding nol untuk produk-produk strategis tertentu. Hal ini termasuk pesawat, komponen pesawat, bahan kimia, obat generik, peralatan semikonduktor, produk pertanian, serta sumber daya alam. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan bahwa UE akan membeli gas alam cair, minyak bumi, dan bahan bakar nuklir dari AS dengan nilai total mencapai 750 miliar dolar AS dalam tiga tahun.
Meskipun demikian, potensi penguatan kurs rupiah diprediksi akan terbatas karena The Fed diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga dan Gubernur Bank Sentral AS kemungkinan akan mengeluarkan pernyataan hawkish terkait inflasi. Data ekonomi AS yang penting, seperti Nonfarm Payrolls (NFP), inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), dan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II AS yang diperkirakan akan menguat, diperkirakan akan mendukung penguatan dolar AS.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah diprediksi berkisar Rp16.250-Rp16.400 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan hari Senin pagi di Jakarta, nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp16.329 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.320 per dolar AS. Seiring dengan berbagai faktor ekonomi dan kebijakan yang ada, pergerakan kurs rupiah akan terus dipantau untuk memahami potensi perubahan selanjutnya.










