Berita  

Strategi Aktivasi FOMO dan WOM dalam Komunikasi Publik Pemerintah

Di sebuah rumah sederhana di tepi kota metropolitan, Siti (38), seorang ibu dengan tiga anak, harus mengatur keuangan keluarganya setiap hari. Ia sering merasa bingung ketika mendengar program bantuan sosial baru dari pemerintah karena khawatir keluarganya akan tertinggal. Siti bukan satu-satunya yang mengalami hal ini di Indonesia. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan sulitnya mencari pekerjaan, komunikasi publik pemerintah menjadi sangat penting.

Banyak masyarakat merasa bahwa realitas yang mereka alami tidak selalu sama dengan informasi yang disampaikan dalam konferensi pers pemerintah. Oleh karena itu, strategi komunikasi seperti Fear of Missing Out (FOMO) dan Word of Mouth (WOM) sangat dibutuhkan untuk mengatasi kesenjangan tersebut. Komunikasi harus lebih dari sekadar strategi pesan, terutama ketika masyarakat mulai protes karena kebijakan yang dianggap tidak transparan.

Pemerintah harus berani menghadapi keadaan, meminta maaf jika dibutuhkan, menunjukkan komitmen untuk memperbaiki situasi, dan menindaklanjuti dengan solusi nyata. Transparansi dan kesediaan untuk memperbaiki perbedaan antara komunikasi otentik dan sekadar kata-kata.

Dua prinsip utama FOMO dan WOM adalah kelangkaan dan bukti sosial. Individu cenderung bertindak ketika merasa kesempatan terbatas dan melihat orang lain melakukan hal yang sama. Pemerintah dapat menggunakan FOMO untuk menciptakan urgensi pada program-program penting dan WOM untuk memberikan legitimasi pada kebijakan dengan testimoni warga.

Aksi massa yang terjadi di berbagai negara menunjukkan betapa pentingnya kepercayaan publik. Pemerintah perlu merespons dengan serius dan berkomitmen untuk menciptakan komunikasi yang responsif dan efektif. Komunikasi harus berlandaskan pada psikologi sosial agar dapat mencapai tujuannya dan memperbaiki hubungan dengan masyarakat.

Source link