Transisi Energi Menuju Energi Terbarukan: Peluang dan Tantangan bagi Industri dalam Negeri
Percepatan transisi energi menuju energi terbarukan menjadi strategi industrialisasi nasional yang memberikan manfaat langsung bagi industri dalam negeri. Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan hal ini di Jakarta. Dia menyoroti potensi besar Indonesia dalam energi terbarukan, seperti tenaga surya, hidro, angin, bioenergi, dan geothermal.
Eddy mengatakan bahwa green jobs akan menjadi peluang bagi tenaga kerja terampil Indonesia, seperti insinyur, teknisi, ahli baterai, dan pekerja manufaktur panel surya. Anak-anak muda Indonesia diminta untuk aktif terlibat dalam transisi energi bersih ini, bukan hanya sebagai penonton.
Indonesia juga memiliki keunggulan pada critical minerals seperti nikel dan tembaga yang penting untuk baterai kendaraan listrik, BESS, dan infrastruktur energi baru. Jika rantai pasok industri tersebut diproduksi di dalam negeri, transisi energi dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, implementasi RUPTL 2025-2034 berpotensi menciptakan lebih dari 1,7 juta green jobs dan berkontribusi pada pertumbuhan PDB. RUPTL tersebut merencanakan tambahan kapasitas terpasang sebesar 69,5 GW, dengan sebagian besar dari energi baru terbarukan serta BESS.
Total investasi yang diperlukan hingga 2034 diperkirakan mencapai 190 miliar dolar AS. Eddy menekankan bahwa ini adalah peluang industrialisasi baru bagi Indonesia. Sinergi antara solusi berbasis alam dan rekayasa dapat memperkuat ketahanan ekonomi dan energi nasional.
Kalangan akademisi dan mahasiswa juga diminta untuk berperan dalam perumusan kebijakan dan inovasi teknologi di sektor energi terbarukan. Transisi energi harus menjadi agenda nasional yang memberikan manfaat bagi industri dalam negeri dan membuka lapangan kerja hijau bagi rakyat Indonesia.












