Masuknya 550.000 liter bahan bakar minyak (BBM) ke Gaza pada Selasa (22/9) membantu menjaga layanan dasar tetap berjalan. Namun, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa volume tersebut masih jauh di bawah kebutuhan minimum di wilayah itu.
OCHA menyampaikan peringatan tersebut pada Rabu (23/9). Menurut badan kemanusiaan PBB itu, para mitranya masih menghadapi kekurangan bahan bakar yang berisiko mengganggu operasional fasilitas kesehatan, layanan air, kegiatan penyelamatan, pembersihan puing, dan layanan penting lainnya.
Pasokan bahan bakar masih terbatas
OCHA menyebut alokasi dana sebesar 2 juta dolar AS, atau sekitar Rp35,76 miliar berdasarkan kurs 1 dolar AS setara Rp17.883, telah disalurkan pada Kamis (17/9) melalui dana kemanusiaan yang dikelola OCHA untuk wilayah Palestina yang diduduki. Bantuan itu dilengkapi donasi terbaru dari Qatar.
Dana tersebut digunakan sebagai langkah sementara untuk membiayai pasokan BBM bagi fasilitas-fasilitas medis di Gaza. Meski demikian, OCHA menegaskan pendanaan tambahan tetap diperlukan agar ketersediaan bahan bakar dapat dipertahankan.
“Pendanaan tambahan sangat dibutuhkan untuk mempertahankan ketersediaan bahan bakar dan mencegah perlambatan yang berbahaya pada layanan kesehatan, penyediaan air, operasi penyelamatan, pembersihan puing, serta layanan-layanan penting lainnya,” ungkap OCHA.
Para mitra kemanusiaan juga melaporkan bahwa penggunaan generator cadangan secara ekstensif sudah tidak dapat dipertahankan. Karena itu, OCHA menilai persetujuan untuk memasukkan oli mesin, suku cadang, dan panel surya, serta izin bagi masuknya bahan bakar komersial, merupakan kebutuhan mendesak.
OCHA juga menekankan pentingnya mengaktifkan kembali operasional Pembangkit Listrik Gaza. Langkah tersebut disebut krusial untuk mendukung keberlangsungan layanan dasar yang saat ini masih sangat bergantung pada pasokan energi terbatas.
Ratusan lokasi pengungsian berisiko banjir
Persoalan pasokan energi berlangsung menjelang musim hujan, ketika kondisi tempat-tempat pengungsian di Gaza menghadapi ancaman banjir. Dari 1.764 lokasi pengungsian yang dikaji para mitra OCHA di seluruh Gaza, sebanyak 989 lokasi berada di kawasan dengan risiko banjir sedang hingga tinggi.
Lokasi-lokasi tersebut menampung sekitar 1 juta jiwa. OCHA mengatakan banyak keluarga pengungsi masih bertahan di tempat penampungan yang kondisinya memburuk sejak musim dingin tahun lalu. Mereka menghadapi keterbatasan perlindungan, sistem drainase yang tidak memadai, serta kekurangan kasur, selimut, dan kebutuhan pokok rumah tangga lainnya.
“Para mitra memperingatkan bahwa sekitar 400.000 jiwa mungkin perlu direlokasi begitu hujan lebat mulai turun,” papar OCHA.
Sebelum hujan lebat datang, para mitra kemanusiaan meningkatkan sistem drainase, memperkuat tempat penampungan, serta menyalurkan material dan peralatan penting. Mereka juga berupaya membantu warga yang telah memilih untuk direlokasi.
Namun, OCHA menyatakan upaya tersebut terbentur keterbatasan sumber daya dan minimnya lahan yang tersedia. Kondisi itu membuat kebutuhan bahan bakar, pendanaan, dan dukungan untuk layanan dasar tetap menjadi persoalan mendesak bagi warga Gaza.












