Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo meminta mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) mengambil peran dalam menangkal hoaks dan provokasi. Ia juga mendorong mahasiswa menjaga kerukunan, menjadi pelopor keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), serta memperkuat persatuan.
Pesan tersebut disampaikan Listyo Sigit saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru UMSU 2026 di Kota Medan, Sumatera Utara, Senin. Dalam paparannya, ia menyoroti perubahan teknologi dan perkembangan kecerdasan buatan yang berlangsung sangat cepat.
Tantangan literasi digital
Menurut Kapolri, percepatan teknologi menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Situasi itu membutuhkan calon pemimpin yang mampu membaca arah perubahan, mengembangkan potensi diri, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, serta negara.
Ia mengingatkan bahwa tingginya penggunaan media sosial belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi digital yang memadai. Ketimpangan tersebut dapat meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap hoaks, disinformasi, pencurian data, deepfake, phishing, dan berbagai bentuk kejahatan digital lainnya.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal. Mereka perlu menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
“Perubahan tersebut menghadirkan tantangan baru yang semakin kompleks sehingga membutuhkan pemimpin masa depan yang mampu membaca arah perubahan dan mengoptimalkan seluruh potensi diri untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Listyo Sigit.
Pendidikan dan karakter berjalan beriringan
Selain penguasaan ilmu, Kapolri menekankan pentingnya karakter dan integritas. Mahasiswa juga diharapkan mampu menggunakan teknologi secara bijak dan produktif, berani menghasilkan karya, serta bersedia mengambil peran di tengah masyarakat.
Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, ia menyebut pendidikan berkualitas, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan keterampilan sebagai unsur penting yang perlu dioptimalkan. Menurut dia, mahasiswa tidak cukup hanya dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga harus dibentuk menjadi pemimpin yang mampu menghadapi perubahan.
“Kemampuan akademik perlu berjalan bersama karakter, integritas, kemampuan beradaptasi, dan pemanfaatan teknologi secara produktif,” kata Kapolri.
Ajakan tersebut menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari upaya menjaga ruang publik tetap sehat dan harmonis. Selain membekali diri dengan kompetensi, mereka diharapkan turut mencegah penyebaran informasi palsu dan provokasi yang dapat mengganggu kerukunan serta persatuan.












