Cari Informasi Kesehatan Pakai AI, Apakah Hasilnya Valid?

Chatbot berbasis artificial intelligence (AI) semakin sering digunakan untuk mencari penjelasan tentang ruam kulit, pusing, nyeri perut, atau keluhan kesehatan lainnya. Pengguna cukup mengetikkan gejala, lalu menerima jawaban dalam hitungan detik dan dapat melanjutkan percakapan dengan menambahkan informasi lain.

Praktis bukan berarti selalu aman. Jawaban AI dapat membantu memahami istilah medis, merangkum informasi tentang penyakit, atau menyusun pertanyaan sebelum berkonsultasi dengan dokter. Namun, informasi tersebut tidak otomatis menjadi fakta medis yang telah terverifikasi.

Jawaban meyakinkan belum tentu benar

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui model AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Grok memiliki potensi di bidang kesehatan. Teknologi itu dapat membantu pasien memahami informasi, mendukung tenaga kesehatan, pendidikan medis, hingga penelitian. Meski demikian, WHO menekankan pentingnya keselamatan, transparansi, pengawasan, serta penggunaan bukti ilmiah.

Salah satu persoalan utama terletak pada cara chatbot menyampaikan respons. Jawaban biasanya tersusun rapi, memakai istilah medis, dan terdengar percaya diri. Padahal, model bahasa besar atau large language models dapat menghasilkan informasi yang salah, tidak lengkap, atau bias. Informasi yang keliru pun bisa tampak masuk akal bagi pengguna yang tidak memiliki latar belakang medis.

Tinjauan sistematis yang diterbitkan di JAMA Network Open menganalisis 137 penelitian tentang chatbot AI yang memberikan informasi atau saran kesehatan. Hasilnya menunjukkan kualitas penelitian tersebut sangat beragam. Metode penilaiannya berbeda-beda, sementara kurang dari sepertiga penelitian membahas etika, regulasi, dan keselamatan pasien dalam penerapan AI untuk layanan kesehatan.

Studi lain yang menguji ChatGPT-4 melalui 100 pertanyaan kesehatan dari masyarakat menemukan sekitar 90 persen jawaban memperoleh nilai di atas rata-rata untuk akurasi ilmiah. Sekitar 84 persen juga mendapat nilai di atas rata-rata untuk kelengkapan informasi. Namun, peneliti tetap meminta konsumen memeriksa jawaban AI melalui tenaga kesehatan atau sumber tepercaya, terutama ketika informasi itu hendak diterapkan pada kondisi individu.

Penelitian yang diterbitkan pada 2026 turut memperlihatkan risikonya. Lima chatbot populer diuji dengan pertanyaan mengenai kanker, vaksin, sel punca, nutrisi, dan performa olahraga. Hampir setengah respons yang dianalisis memiliki masalah: 30 persen dinilai agak bermasalah dan 19,6 persen sangat bermasalah. Kelengkapan referensinya memiliki nilai median hanya 40 persen. Beberapa chatbot juga menghasilkan halusinasi atau sitasi yang dibuat-buat.

Gunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti dokter

AI lebih tepat digunakan untuk menjelaskan istilah medis setelah seseorang menerima hasil pemeriksaan, membandingkan dua istilah kesehatan dengan bahasa sederhana, atau menyusun daftar pertanyaan untuk dokter. Pertanyaan seperti “Apa saja penyebab umum gejala ini dan kapan saya perlu memeriksakannya?” lebih tepat daripada meminta AI menentukan penyakit yang diderita.

AI tidak memiliki pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan lengkap, hasil laboratorium, pencitraan, dan informasi lain yang dibutuhkan untuk menetapkan diagnosis. Karena itu, pertanyaan tentang diagnosis, obat, dosis, interaksi obat, kondisi darurat, atau penyakit tertentu memerlukan kehati-hatian lebih tinggi dan verifikasi dari tenaga kesehatan.

Pengguna juga perlu menjaga privasi. Nama lengkap, nomor identitas, hasil pemeriksaan, foto dokumen medis, dan data kesehatan sensitif lainnya sebaiknya tidak dimasukkan sembarangan. WHO mengingatkan adanya risiko privasi dan penggunaan data ketika AI dipakai untuk kebutuhan kesehatan. Sebelum mengunggah informasi pribadi, pengguna perlu memahami kebijakan privasi layanan dan menilai apakah data tersebut benar-benar diperlukan.

Informasi kesehatan dari AI dapat menjadi pintu masuk untuk memahami suatu topik, tetapi bukan sumber medis yang selalu benar. Untuk diagnosis, keputusan pengobatan, penggunaan obat, atau gejala serius, jawaban chatbot harus diperiksa melalui sumber medis tepercaya dan tenaga kesehatan.

Source link