Gubernur Jawa Timur Mengingatkan Pentingnya Soliditas dalam Muktamar NU
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) sebagai momen krusial untuk memperkuat solidaritas organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Dalam pernyataannya di Jombang, Khofifah menegaskan pentingnya momentum ini untuk memperkuat persatuan dan menghadapi dinamika zaman yang semakin kompleks.
Soliditas NU dalam Menghadapi Perubahan Zaman
Menurut Khofifah, soliditas merupakan modal utama bagi NU dalam menghadapi perubahan sosial yang terus berlangsung dengan cepat. Dengan basis yang besar dan jaringan pesantren yang luas, NU memiliki potensi untuk memainkan peran strategis dalam menanggapi berbagai isu kebangsaan.
Namun, Khofifah juga menekankan pentingnya NU untuk tetap beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional NU. Keseimbangan antara tradisi keulamaan dan kemampuan menjawab persoalan baru masyarakat menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh NU ke depan.
Tantangan dan Harapan dalam Muktamar NU
Khofifah juga menyoroti sejumlah tantangan seperti perkembangan teknologi, perubahan iklim, pendidikan, dan dinamika geopolitik yang membutuhkan respons kolektif. Harapannya, Muktamar Ke-35 NU mampu memperkuat kepemimpinan yang mampu merawat persatuan dan mengayomi seluruh elemen NU.
Selain itu, Khofifah juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi warga Nahdliyin melalui pengembangan UMKM, koperasi, pendidikan vokasi, ekonomi syariah, dan sektor produktif lainnya. Melalui langkah-langkah ini, diharapkan warga Nahdliyin dapat menjadi lebih mandiri, produktif, dan berdaya.
Muktamar Ke-35 NU berlangsung dari 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Acara tersebut dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto dan utusan pengurus NU dari dalam dan luar negeri.












