Polusi udara tidak hanya mengganggu sistem pernapasan. Paparan dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah, terutama melalui partikel halus PM2.5 yang mampu masuk jauh ke saluran pernapasan. Partikel ini berkaitan dengan proses peradangan dan gangguan pada sistem kardiovaskular.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan polusi udara sebagai salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular. Paparan tersebut juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke. Karena itu, perlindungan terhadap jantung perlu dilakukan ketika kualitas udara memburuk, tanpa mengabaikan kebiasaan sehat sehari-hari.
Kurangi paparan saat kualitas udara memburuk
Langkah pertama adalah memantau kualitas udara sebelum bepergian atau beraktivitas di luar ruangan. Ketika kadar polusi, terutama PM2.5, sedang tinggi, mengurangi durasi berada di luar dapat membantu menekan jumlah polutan yang terhirup. American Heart Association menyebut pengurangan paparan PM2.5 sebagai salah satu pendekatan untuk mengurangi dampak polusi terhadap kesehatan kardiovaskular.
Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi sementara atau dipindahkan ke lokasi dengan kualitas udara yang lebih baik. Lari dan bersepeda, misalnya, membuat seseorang menghirup lebih banyak udara sehingga jumlah polutan yang masuk ke paru-paru dapat meningkat ketika udara tercemar.
Namun, kondisi tersebut bukan alasan untuk menghentikan olahraga sepenuhnya. Aktivitas fisik tetap penting bagi kesehatan jantung, tetapi waktu dan tempatnya dapat disesuaikan dengan keadaan udara.
Masker yang sesuai dapat digunakan ketika seseorang harus berada di area dengan polusi tinggi. Perlindungannya sangat bergantung pada jenis masker dan kerapatan pemakaian. Masker yang longgar atau menyisakan celah di sekitar wajah dapat membuat partikel lebih mudah masuk. Oleh sebab itu, masker sebaiknya dipandang sebagai salah satu cara mengurangi paparan, bukan perlindungan tunggal terhadap seluruh dampak polusi.
Jaga udara di dalam rumah
Udara di dalam ruangan juga perlu diperhatikan karena dapat tercemar asap rokok, debu, pembakaran, dan sumber polutan lainnya. Sistem penyaringan udara, menurut American Heart Association, dapat membantu meningkatkan kualitas udara di rumah, sekolah, maupun tempat kerja.
Merokok di dalam rumah perlu dihindari karena asap rokok menjadi salah satu sumber polusi udara dalam ruangan yang berbahaya bagi perokok maupun orang-orang di sekitarnya. Mengurangi sumber polusi dari dalam ruangan melengkapi upaya menghindari udara luar yang tercemar.
Kelompok rentan perlu lebih waspada
Orang yang telah memiliki penyakit jantung atau pembuluh darah perlu memberi perhatian lebih terhadap kualitas udara di sekitarnya. Lansia dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu juga dapat lebih rentan terhadap dampak polusi.
Kementerian Kesehatan menyebut paparan PM2.5 dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular serta memperburuk penyakit kardiovaskular yang sudah ada. Jika muncul nyeri dada, sesak napas berat, jantung berdebar disertai pusing, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan, pertolongan medis perlu segera dicari.
Pengurangan paparan polusi perlu berjalan bersama pola hidup yang mendukung kesehatan jantung. WHO merekomendasikan aktivitas fisik, pola makan sehat, menghindari tembakau, dan menjaga berat badan sebagai bagian dari upaya menekan risiko penyakit kardiovaskular. Kebiasaan tersebut tetap penting dilakukan, termasuk ketika kualitas udara sedang membaik.












