Berita  

Sound Horeg: Hiburan Rakyat di Tengah Tantangan Pengawasan

Sound horeg berkembang dari hiburan berbasis pengeras suara dalam hajatan dan karnaval menjadi fenomena sosial yang melibatkan komunitas, kendaraan parade, serta pelaku usaha. Dentuman musiknya kini tidak hanya dikenal di Jawa Timur, tetapi juga menyebar ke berbagai wilayah melalui video yang viral di media sosial.

Perangkat sound horeg umumnya diangkut menggunakan truk atau mobil pikap. Dengan kapasitas suara yang besar, kendaraan tersebut hadir dalam berbagai acara masyarakat, mulai dari hajatan, bersih desa, peringatan kemerdekaan hingga karnaval.

Dari ekspresi kegembiraan menjadi ekosistem ekonomi

Pegiat seni Jawa Timur, Heri Lentho, menilai sound horeg tidak bisa dilihat semata-mata sebagai persoalan teknologi pengeras suara. Menurut dia, fenomena tersebut berangkat dari kebiasaan masyarakat mengekspresikan kegembiraan melalui musik, bunyi, dan suara.

Penggunaan pelantang suara dalam berbagai perayaan awalnya merupakan hal yang wajar. Namun, seiring waktu, perangkat suara itu berkembang menjadi daya tarik tersendiri. Ukuran pengeras suara semakin besar, volume semakin kencang, sementara kendaraan parade dibuat lebih spektakuler.

Perkembangan itu kemudian melahirkan komunitas penggemar, identitas, dan gengsi di antara pemilik sound system. Sound horeg pun tumbuh sebagai hiburan bagi sebagian masyarakat kelas bawah. Aktivitas tersebut juga menggerakkan ekonomi sejumlah pihak, seperti pemilik perangkat, teknisi, pekerja angkut, sopir, pedagang, pelaku UMKM, pekerja kreatif, seniman, dan para penampil.

Popularitas yang meningkat tidak sepenuhnya berjalan tanpa persoalan. Sekitar 2023 hingga 2025, sound horeg mulai memicu perdebatan dan protes karena dampak yang ditimbulkannya. Salah satu peristiwa yang menjadi sorotan pada 2025 adalah aksi warga merobohkan gapura untuk membuka jalan bagi truk pengangkut sound horeg.

Peristiwa itu memperkuat kritik terhadap penggunaan sound horeg yang dinilai dapat menimbulkan kerusakan pada fasilitas umum. Kemampuan perangkat tersebut menciptakan suasana meriah secara cepat juga berhadapan dengan persoalan keselamatan ketika parade berlangsung di ruang publik.

Tiga orang meninggal pada Agustus 2026

Pada Agustus 2026, tercatat tiga orang di Jawa Timur meninggal dunia dalam insiden yang diduga berkaitan dengan karnaval atau parade sound horeg. Korban pertama adalah SN, 29 tahun, yang merupakan kru atau penyewa sound horeg.

SN meninggal saat tertidur di atas truk pengangkut sound horeg yang melaju. Kepalanya terbentur gapura di Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, Jember, pada 2 Agustus. Ia meninggal seketika akibat benturan tersebut.

Korban berikutnya, Bonari, 44 tahun, meninggal ketika berjalan kaki mengikuti karnaval sound horeg di Banyuwangi pada 23 Agustus. Bonari diduga mengalami serangan jantung. Ia juga diduga menenggak minuman keras sebelum karnaval dimulai.

Insiden ketiga menewaskan Slamet Timbang, 57 tahun, di Desa Wringinagung, Jombang, Jawa Timur. Saat itu, Slamet mengantar istrinya ke apotek di tengah kemeriahan parade sound horeg.

Secara tiba-tiba, tembok bangunan dan kanopi ambruk lalu menimpa Slamet hingga meninggal di lokasi. Runtuhnya bangunan tersebut diduga dipicu getaran dan suara keras sound horeg, serta kabel yang tersangkut pada bodi atau muatan truk saat kendaraan melintas.

Source link